Diary Pensiunan; Lima Menit Bersama Diri Sendiri
![]() |
Lima Menit Bersama Diri Sendiri
Ternyata ini tulisan pertama saya tahun 2026 di blog ini. Blog yang niatnya akan saya jadikan jurnal pensiunan. Tidak apa-apalah.
Mari membujuk diri sendiri, bahwa tidak semua rencana harus terealisasi. Menulis pelan-pelan saja. Kita coba dengan Lima Menit Bersama Diri Sendiri.
“Saya percaya lima menit yang digunakan setiap hari lebih berarti daripada lima jam yang hanya direncanakan.”
Saya berjuang menerapkan kalimat di atas setelah memasuki masa pensiun. Sebab tanpa disadari, kata pensiun sering dianggap sebagai masa bersantai dan berleha-leha.
“Orang pensiun mah bebas.”
Kira-kira begitulah pemahaman sebagian orang. Padahal pensiun atau masih aktif, sama saja. Harus terus bergerak, beraktivitas dan tidak berhenti berkarya.
Saya menyadari bahwa pensiun bukan berarti berhenti berkegiatan. Pensiun hanya mengubah bentuk kesibukan. Tentu saja tidak semudah tersenyum, karena mengubah rutinitas yang bertahun-tahun dijalani menjadi rutinitas baru, perlu waktu dan usaha yang kuat.
Menjelang pensiun, saya mencanangkan diri bahwa lima menit pertamaku nanti adalah menyongsong subuh dengan langkah-langkah kecil menuju ke masjid.
Usai salat subuh, lima menit pertamaku lainnya adalah membaca atau menulis atau apalah itu yang bisa menghasilkan sesuatu.
Selanjutnya barulah ke dapur menyiapkan sarapan.
Usai sarapan, bolehlah saya berleha-leha sejenak sebelum melakukan aktivitas lainnya.
Ternyata harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan. Saya dihadapkan dengan tugas dan tanggung jawab baru. Sepertinya rutinitas sebagai guru sebelum pensiun dan setelah pensiun, tidak banyak berubah.
Maka, lima menit setelah salat Subuh itu menjadi awal dari perjalanan baru saya. Lima menit untuk bersiap. Lima menit untuk melangkah. Lima menit untuk kembali mengabdi sebagai kepala sekolah untuk kedua kalinya.
Akhirnya saya kembali ke sekolah.
Pulang dari sekolah, ternyata perjalanan lima menit saya belum selesai. Bagaimanapun, saya masih seorang istri dan ibu dari dua anak yang masih dalam tanggungan.
Ada pekerjaan rumah yang tidak mengenal kata pensiun. Rutinitas ibu-ibu pada umumnya. Memasak, merapikan rumah dan dan berbagai pekerjaan kecil lainnya.
Kemudian saya menyadari satu hal, bahwa lima menit dalam pekerjaan domestik ternyata bisa berkembang menjadi bermenit-menit berikutnya.
Lima menit merapikan kamar, tahu-tahu menjadi setengah jam karena berlanjut ke pekerjaan lain.
Pekerjaan rumah memang ajaib membuat lima menit terasa seperti tidak pernah cukup.
Namun, saya tetap mencoba memegang prinsip yang sama: gunakan lima menit pertama dengan baik.
Setelah urusan rumah selesai, saya mulai mencari ruang untuk diri sendiri. Kembali kepada hal-hal yang saya sukai.
Lima menit untuk menulis. Membuka kembali tulisan yang belum selesai. Atau lima menit membaca atau sekadar mencari inspirasi.
Terkadang lima menit duduk di depan mesin jahit. Dan seperti halnya pekerjaan domestik, lima menit itu sering kali tidak berhenti pada lima menit saja.
Satu paragraf tulisan bisa membuat saya terus menulis sampai satu halaman dan pasti itu tidak lima menit lagi.
Satu potong kain yang awalnya hanya ingin saya jahit sebentar, bisa membuat saya lupa waktu di depan mesin jahit.
Mungkin memang begitu cara sebuah hobi bekerja. Ia tidak memaksa. Ia hanya menunggu kita menyediakan sedikit waktu untuk memulainya.
Saya menyadari bahwa tidak setiap lima menit harus menjadi sesuatu yang produktif. Sesekali, lima menit pertama saya isi dengan menonton di Netflix.
Eh, bukan lima menit, ding. Minimal 30 menit. Niat awalnya, maksimal 30 menit saja. Tahu-tahu episode berikutnya berjalan dan waktu lima menit berubah menjadi satu jam.
Ternyata saya juga manusia biasa. Saya tidak harus selalu produktif.
Ada saatnya tubuh perlu beristirahat, pikiran perlu bersantai, dan hati perlu menikmati sesuatu tanpa merasa bersalah.
Jadi, lima menit bagi saya bukan lagi ukuran waktu yang harus selalu menghasilkan karya. Lima menit adalah cara saya belajar menghargai waktu.
Kadangkala lima menit menjadi ibadah, kadang menjadi pekerjaan atau menjadi tulisan atau menjadi jahitan.
Sesekali bisa menjadi satu episode drakor di Netflix yang entah bagaimana bisa berubah menjadi tiga episode. LOL.
Yang penting, saya tidak lagi menunggu waktu luang yang panjang untuk melakukan sesuatu yang saya sukai.
Sebab saya mulai belajar bahwa waktu luang yang sempurna mungkin tidak pernah datang. Sayalah yang harus menciptakan ruang kecil di antara kesibukan.
Saya menyebutnya ruang kecil itu adalah lima menit bersama diri sendiri.
Makassar, 14 Agustus 2026
Dawiah

Komentar
Posting Komentar